Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, 21 November 2018

Kelas yang Akan Dirindukan




Apa yang orang lain bilang adalah benar. Bahwa waktu berlalu begitu cepat, tanpa kita sadari. Gue juga merasakan hal yang sama. Kali ini gue merasa waktu berlalu lebih cepat dari kereta Shinkansen. Kini di hadapan gue hanya tersisa waktu satu bulan dari waktu satu tahun yang gue punya.

Dalam menjalani Pendidikan Profesi Guru ini, gue akan menghadapi perpisahan

Satu kelas yang akan gue rindukan kelak. Kelas PPG Pendidikan Bahsa Inggris. Di sini gue menemukan keluarga, semangat, pelajaran.  Sungguh gue pasti akan rindu.

Kami akan berpisah, kemudian menjalani hidup masing-masing. Lalu menikah dengan pasangan masing-masing. Menemukan keluarga baru, semangat baru, kebahagiaan baru.

Namun rindu pada kelas ini akan selalu ada.

Gue akan menikmati sisa waktu yang ada, sebelum akhirnya gue akan merindukan kelas ini kelak.


Continue Reading...

Friday, 16 November 2018

Kisah Lelaki Penabung Rindu




Suatu hari, hiduplah lelaki tampan. Namun ketampanannya hanya diakui oleh keluarganya. Walaupun hanya keluarganya yang memuji ketampananya, lelaki itu tetap bahagia. Ia selalu membagikan sedekah dalam bentuk senyuman. Bahkan suka senyum-senyum sendiri di depan cermin.

Dia telah lama menjomblo. Satu-persatu perempuan silih berganti menjadi gebetannya. Namun tak ada satupun wanita yang berhasil meluluhkan hatinya. Perasaannya pada seorang wanita tidak pernah dalam. Dia belum menemukan wanita yang membuatnya benar-benar jatuh hati.
Continue Reading...

Friday, 20 April 2018

Bolehkah?




Bolehkah aku memerhatikanmu dari jauh?
Bolehkah aku melihat gambarmu lama-lama? Gambar di saat kamu berada di sebelahku.

Bolehkah aku membaca chat masukmu segera?
Namun bolehkah aku sedikit lama membalas chatmu? Karena aku harus menghapus berkali-kali typo karena tanganku yang terlalu gemetar.

Bolehkah aku gugup saat bertemu kamu? Karena aku harus memikirkan apa yang harus kulakukan.
Bolehkah aku senyum-senyum sendiri setelah berpapasan denganmu?
Bolehkah aku mendengar lagi suaramu dari sebrang telpon sana? Walau hanya 30 detik.
Bolehkah aku mengganti lirik setiap lagu yang kunyanyikan menjadi namamu?

Bolehkah aku memikirkan wajahmu malam nanti?
Bolehkah aku rindu kamu? Rindu yang menyiksa namun paling kunikmati.
Bolehkah aku sayang kamu? Rasa sayang yang tak perlu kau miliki juga.
Continue Reading...

Friday, 24 November 2017

Jomblo Selektif





Gue dikenal sebagai jomblo mengenaskan sama temen-temen gue di kampus. Citra gue rusak di mata mereka. Pokoknya tiap gue kumpul bareng mereka, kesannya gue yang paling ngenes. Kesepian, enggak punya pacar. Gagal terus tiap menggebet.

Memang sih gue ini jomblo. Kejombloan gue sudah menahun. Bahkan dari lahir sampe sudah bisa bikin cewek lahiran gini, gue cuma satu kali punya pacar. Namun gue jomblo bukan karna enggak laku. Tapi gue jomblo karna selektif memilih pasangan.

Gini-gini gue pernah nolak cewek SEBELUM dia nembak gue. Gue juga pernah nolak cewek SAAT dia nembak gue. Dan terakhir, ini paling absurd, gue pernah menolak untuk jadi SELINGKUHAN. Beuh!

Jadi ceritanya begini.

Semester awal kuliah

Continue Reading...

Thursday, 16 November 2017

Aku Memang Gila



Sore itu, kita berkendara di bawah langit mendung
Udara mulai lembab
Bulir air jatuh sedikit-demi sedikit dari langit
Cahaya matahari mulai meredup di ufuk barat

Aku membelokan kaca sepion sebelah kiri
Melihat pantulan wajahmu di dalamnya
Wajah yang teduh dibalut kerudung abu mancung

Kau menoleh, membalas tatapanku di dalam kaca sepion itu
Sesaat kemudian kau getarkan hatiku dengan senyum tipis
Senyum tipis yang manis

Continue Reading...

Friday, 3 November 2017

Balada Cinta Anak Pelosok



Tahun 2016 lalu gue jadi guru bantu dari pusat untuk mengajar di daerah pedalaman Indonesia. Gue ditugaskan di Pulau Nias. Tepatnya di pedalaman Kabupaten Nias Selatan, Kecamatan Boronadu. Gue mengajar di salah satu SMP.

Anak SMP di sini kelakuannya masih kayak anak SD. Udah SMP masih main kejar-kejaran. Udah gitu kalo ketangkep sama temennya, nangis. Udah nangis ngadunya ke guru. Cemen! Kayak gue waktu dulu ajah. Namun gue enggak menyangka juga, di balik kelakuan mereka yang kayak anak SD, mereka mulai tumbuh dewasa. Mereka mulai pacar-pacaran.

Gue bingung ngebayangin gimana anak pedalaman gini saat pacaran. Ini bentuk pacarannya kayak gimana coba? Kalo anak kota kan asik gitu. Pulang sekolah janjian jalan bareng, nonton ke bioskop. Atau bisa juga janjian ketemu di taman deket sekolah, nongkrong di sana sampe magrib sampe dicariin orang tuanya dikira hilang.

Lah, anak pedalaman gimana? Di sini enggak ada bioskop. Cuma bisa nonton tivi. Itu juga pake genset karna listrik belum ada.

FYI, orang di sini kalo nonton tipi ada jadwalnya, yakni tiap jam 8 malem. Yang ditonton sinetron alay. Itu juga nontonnya bareng-bareng di rumah warga yang punya tivi. Karna di sini cuma sedikit warga yang punya genset untuk nonton tivi. Cuma orang yang sanggup beli bensin 20 rebu tiap malem yang punya tivi di rumah. Mangkanya, punya tivi di rumah aja sudah dianggap kaya oleh warga di sini.

Karna di sini enggak ada bioskop, mungkin bocah SMP jadinya janjian nonton sinetron bareng di rumah tetangga.

Continue Reading...

Monday, 30 October 2017

Teruntuk Kamu, Aku Berharap





Malam yang basah
Kau dan aku duduk berdampingan
Di pinggir jalan yang bising dengan kendaraan
Berlindung dari titik-titik hujan

Dari sudut mata, aku memerhatikanmu lamat-lamat
Tatapan teduhmu membuat hatiku hangat, di tengah malam yang dingin lembab
Deru nafasmu menahan dinginnya udara malam
Menjadi alunan yang sangat menyenangkan untuk didengar

Continue Reading...

Sunday, 24 September 2017

Pemeran Utama


Mungkin kamu sudah lupa saat kita beriringan menuju rumah. Lebih tepatnya, aku yang sedikit membuntutimu sepanjang jalan ke rumah. Kita sama-sama berada diatas motor, motor yang berbeda. Kau melaju sendiri di depan dengan skuter metik mu. Aku beberapa meter di belakang menunggangi motor bebek jadul andalanku.

Dari balik helm, kerudungmu melambai terhempas angin. Aku menatap lamat-lamat dirimu dari belakang. Saat itu Waktu seakan berjalan lebih lambat. Namun detak jantungku entah mengapa berdebar lebih cepat. Entah mengapa. Entah mengapa? Ah, tentu bukan ‘entah mengapa.’ Bukan tanpa sebab. Jelas ada sebab. Sebab yang sudah sejak lama ada.

Sepanjang jalan aku memerhatikanmu. Seakan mata ini tidak pernah berkedip. Tak mau kamu luput sedetik pun dari pandanganku. Ah, ini mungkin terlalu berebihan. Namun semakin lama, semakin tak karuan jantungku memandangimu.
Padahal ini baru berada jauh beberapa meter di belakangmu. Di belakang yang mungkin kau tak akan tahu.

Bagaimana jantungku nanti kalau aku di dekatmu, didepanmu, di dalam cerita hidupmu dan menjadi pemeran utama di dalamnya. Pemeran utama?

Ah, apa lagi ini.

Yah, itulah sebab yang membuat jantungku tidak karuan. Sebab yang telah ada lama.  Sebab yang selalu kunikmati tiap berada di dekatmu. Eh bukan, bukan di dekatmu, namun agak jauh darimu, dari belakangmu, dari tempat yang mungkin kamu tidak tahu.

Namun apa mungkin sosok yang selalu jauh berada di belakangmu dan tersembunyi ini bisa menjadi pemeran utama dalam cerita hidupmu. Apakah mungkin aku menjadi pemeran utama itu?
Continue Reading...

Sunday, 9 July 2017

Kenapa Memilihku?


Aku tak lagi merasakan lunglai di tubuhku. Semua rasa lelah yang ku rasakan setelah mengajar di kampus hilang saat aku menginjakkan kaki di rumah. Terutama saat langkah kaki pertamaku memasuki kamarku dan istriku. Ini adalah rumah yang sebenarnya. Rumah tempatku kembali dari penat. Tempat dimana sumber kebahagiaanku berasal.

Malam itu aku tidur menyamping, menghadap ke kanan. Wajah Rani tepat di hapanku. Wajah yang segar, manis, cantik. Tak pernah berubah dari saat pertama kali aku menatapnya sedekat ini, tujuh tahun lalu. Ya baiklah, perubahannya hanya sedikit. Sedikit lebih tembam.

Kang, apa alasan akang memilihku?” tiba-tiba Rani bersua. Ia tersenyum malu-malu. Ah, hatiku selalu lumpuh tiap menatap raut wajahnya seperti ini.

Tangan kiriku melayang, membelai rambutnya. Lalu turun sedikit. Ibu jariku mengelus-eleus tulang pipinya. “Karna aku butuh didampingi kamu dalam hidupku,” ucapku.

Senyum Rani melebar. Tangannya memainkan kaus yang ku pakai. Pandangannya merunduk. Aku tahu, itu tandanya Rani sedang salah tingkah.

“Lalu, kenapa kamu mau menerimaku, di saat banyak lelaki yang mengejarmu?” tanyaku balik. Tangan kiriku beralih, menggenggam jemarinya. Tangan kananku ku tekuk, kujadikan alas kepalaku, walau bantal sudah mengalasi kepalaku.

Continue Reading...

Friday, 10 June 2016

Pacaran yang Islami



Orang bilang, “Enggak ada yang namanya pacaran Islami. Karna pacaran dalam Islam itu enggak boleh.”

Menurut gue itu salah. Dalam Islam juga boleh kok pacaran, asalkan sebelumnya menikah dulu. Ehehe.

Yup, jadi maksud gue, pacaran yang Islami itu ya yang pacarannya sesudah menikah. Sebagai pasangan pengantin muda, pasti asyik ngejalanin kegiatan seperti orang pacaran. Misalnya nge-date tiap malam minggu. Tujuan ngedate bisa bervariasi. Bisa terkadang nonton, makan di cafe yang mengadakan stand up comedy, seperti Komunitas Stand Up Comedy Cirebon yang sealu rutin mengadakan open mic tiap malem minggu, atau pilihan terakhir gelap-gelapan berdua di kuburan.

Loh, enggak ada salahnya dong mojok gelap-gelapan di kuburan. Kalo digerebek polisi kayak di acara 86, tunjukin surat nikah. Yang penting kan udah nikah. Asal jangan gelap-gelapan di kuburan sambil pesugihan. Itu termasuk musyrik. Kalo udah musrik, rontok dah semua amalan dari awal banget hidup sampe sekarang. Pahala waktu dulu rela beli pecin di warung karna disuruh nyokap padahal lagi asik nonton drama korea, hangus sudah. Gile, rugi benerrr!

Well, menikahlah di usia muda. Biar masih bisa pacaran. Lagi pula pasangan pengantin muda tuh enak dipandang. Apalagi pas di pelaminan. Kayaknya enak gitu melihat sepasang muda mudi yang di atas pelaminan pernikahan. Pengantin ceweknya cantik enak dilhat. Lengannya masih kencang dan kecil, tubuhnya ideal. Sementara pengantin cowok nampak ganteng dan enak dipandang. Rambutnya masih tebal. Perutnya masih rata. Kumis dan jenggotnya masih tipis sehingga wajahnya cute abis. Rasanya kayak nonton pernikahan di FTV.

Jangan sampe kayak pengalaman gue. Waktu itu gue nganterin nyokap menghadiri hajatan pernikahan. Pasangannya tua banget. Yang cowok rambut depannya sudah rontok. Perutnya segede tabung gas elpiji 12 kilo karna kebanyakan lemak. Kumisnya baplang. Yang cewek juga enggak kalah tuanya. Lengannya bengkak segede tiang telepon. Mata gue sepet ngeliat yang beginian. Bawaannya pengen cepet pulang, enggak makan di tempat hajatan. Kalo bisa hidangan dibekel aja pake rantang.

So, nikah aja dulu, pacaran kemudian. Biar bisa menikmati pacaran yang Islami di usia muda gitu.

By the way, ini cuma opini pribadi aja. Kalo belum ada modal untuk nikah dan belum sanggup mental, ya tahan dulu sih. Soalnya gue juga masih jomblo. Hiks!

Sedih kalo diceritain mah.

Demikian postingan gue kali ini. Jadi kesimpulannya pacaran yang Islami itu ada kok. Iyah, ada.

Continue Reading...

Friday, 1 April 2016

Tips Jitu Menjawap Pertanyaan “Kapan Nyusul?”



Gue sudah sering dibombardir dengan pertanyaan enggak berperasaan, “Kapan nyusul?”

Ketika gue menghadiri undangan kawinan perdana di semester enam, gue sudah mendapatkan pertanyaan tersebut. Iyah, “kapan nikah” maksudnya.

Gue santai aja nanggepin pertanyaan tersebut. Enggak ada ekspresi lain selain cengar-cengir-menjijikan yang terpancar dari wajah gue. Gue masih selow.

Suatu waktu, gue kembali datang ke undangan kawinan. Lagi-lagi gue ditanya “Kapan nyusul?” bahkan bukan cuma itu, kali ini gue juga ditanya, “Kok enggak diajak istrinya?”

Gila! Ini sih ngeledek namanya. Setua itu kah wajah gue!

Seiring bertambahnya usia dan kini gue sudah lulus kuliah dan resmi bergelar S.Pd, gue sudah kenyang makan asam garam seputar pertanyaan “Kapan nyusul?” Selama ini gue cuma nanggepin dengan cengar-cengir, namun cukup sudah! Gue enggak bisa diginiin terus. Emosi gue membuncah ketika gue menghadiri acara lamaran sepupu gue, Ghina, pada tanggal 25 Maret kemarin.

Moment itu adalah titik balik kebangkitan gue. Gue sadar, sesaat lagi Ghina menikah. Di moment nikahan Ghina kelak gue pasti akan dihabisi dengan pertanyaan “Kapan nyusul?” Itu pasti! Gue enggak akan tinggal diam. Seluruh kekuatan akan gue kerahkan untuk memproteksi diri dari pertanyaan super mengerikan itu.

Sejak tanggal 25 Maret itu, gue berpikir keras jawaban apa yang paling tepat yang harus gue berikan saat dicerca dengan pertanyaan jahat demikian.

Berikut ini, pilihan cara menjawab yang gue pertimbangkan untuk dilontarkan saat kita dibombardir dengan pertanyaan”KAPAN NYUSUL?”

Pertama-tama, jawablah dengan tertawa santai seperti berikut:

Continue Reading...

Barangkali Luka di Hati sama seperti Luka di Jari



“A..., tolong kupasin kelapa!” teriak nyokap dari dapur. Gue adalah anak pertama dan gue adalah Orang Sunda. Itulah mengapa nyokap memanggil gue, ‘A,’ yang berarti ‘kakak.’

Gue lagi asik gogoleran nonton FTV di ruang tengah. Maklum, gue masih pengangguran, jadi kerjaan gue nonton FTV untuk nyari inspirasi.  Gue baru kerja part-time ngajar di bimbel. Full-time-nya gue nganggur di rumah, nonton FTV.

“Iya, Mah. Sebentar, A’a lagi nonton FTV dulu,” jawab gue kala itu.

“Cepetan! Mamah mau masak sayur lodeh nih pake santen!” teriak nyokap gue lagi.

Ini yang ngeselin. Nyokap tuh enggak toleransi banget sih. Gue lagi asik nonton FTV, eh malah disuruh ngupas kelapa. Mana adegannya lagi seru lagi. Di TV nampak pemeran cowok lagi nembak pemeran cewek, terus mereka pelukan. Adegan tersebut sungguh indah, beda banget dengan realita yang mana kalo cowok nembak cewek bukannya pelukan, malah digantung berminggu-minggu.

“I-iyah, sebentar, Mah. Nuggu iklan, nih!” teriak gue ke nyokap.

Enggak ada teriak balasan dari nyokap. Hening.

Asik, gue terusin nonton FTV. Setelah cewek dan cowok itu pelukan, mereka tatap-tatapan. Wajah mereka makin mendekat satu sama lain. Si cowok memiringkan kepala 20° ke kiri. Mata si cewek terpejam. Bibir mereka berdekatan. Lalu mereka... gelap. Tiba-tiba TV gue menjadi gelap.

“KUPAS KELAPA SEKARANG!” teriak nyokap yang tiba-tiba ada di sebelah TV sambil memegang kabel TV yang sudah copot dari saklarnya. “CEPET!” kata nyokap sambil memutar kabel TV  seperti cowboy.

Continue Reading...

Monday, 8 February 2016

Hal-hal yang Bikin Orang Takut Nyatain Rasa


“Gue sayang sama lo. Gue mau nikah sama lo! GUE PENGEN BOBO BARENG SAMA LO!”

Pengen rasanya gue mengucapkan kalimat di atas lantang di wajahnya. Namun sayang, gue enggak punya cukup keberanian. Lidah gue terlalu kelu. Mendadak gue seperti orang kena struk yang bibir dan pantatnya enggak bisa gerak. Dan akhirnya gue melewati kesempatan jadian. Dia pun pindah ke luar kota, sementara gue hanya bisa merana.

Sampai sekarang gue masih komunikasi baik dengan dia. Seenggaknya gue bersyukur masih bisa keep in touch dengan dia. Gue beruntung enggak sampai kehilangan sosoknya, meskipun di permukaan bumi ini gue dan dia berjarak ratusan kilometer. Mungkin seandainya jika saat itu gue nyatakan rasa, gue akan kehilangan dia. Iyah, karna sudah bisa diprediksi kemungkinannya 99,9% gue akan ditolak. Dan moment ditolak adalah pintu gerbang dari putusnya hubungan. Kebayang kami akan saling diam. Saling canggung. Gue akan menyimpan dendam membara. Kirim santet kawat dan power bank ke dalem usus dua belas jarinya.

Kesimpulannya... saat itu gue takut nyatain rasa.

Mungkin bukan cuma gue aja yang pernah ngalamin takut nyatain rasa. Gue yakin, jomblo-jomblo nista yang merana di luar sana juga pasti pernah ngalamin yang namanya takut nyatain perasaan.
Continue Reading...

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter