Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, 17 January 2019

Visi & Misi PLN



Pertama-tama, perkenalkan, kami adalah Partai Lama Ngejomblo. Disingkat PLN. Kami memiliki visi dan misi yang brilian dalam memajukan Negara Indonesia. Bergabunglah bersama kami untuk memajukan Indonesia menjadi negara yang hebat. Untuk meyakinkan anda agar memilih PLN, simak penjabaran visi dan misi PLN jika terpilih menjadi presiden Indonesia periode 2019-2024:
Continue Reading...

Thursday, 9 November 2017

Ketika Cewek jadi Wasit Bola



Kemarin gue lihat berita olahraga di TV, dan salah satu segmennya membahas profil seorang wasit sepakbola wanita asal German. Namanya Bibiana Steinhaus. Gue langsung kebayang gitu, seorang cewek dengan segala keribetannya, harus memimpin pertandingan sepakbola. Menurut gue ini enggak gampang, Cuy. Dan pikiran gue mulai berfikir yang macem-macem. Bakalan banyak hal absurd yang terjadi di lapangan seandainya sepakbola dipimpin oleh seorang wasit perempuan.

Dan berikut keabsurdan yang bakal terjadi kalo wasit perempuan memimpin pertandingan sepakbola:

Continue Reading...

Saturday, 28 October 2017

Sumpah Pemuda Jaman Now

Sebagai pemuda, pada Hari Sumpah pemuda di tanggal 28 Oktober ini, gue merasa terpanggil. Secara gue ini seorang pemuda, ya walaupun gue sering dipanggil “Bapak,” bahkan “Om.” Di Indomaret, gue ditanya, “Ada kartu Indomaretnya, PAK?” Di toko ikan gue dibilang, “Cupang yang ini bagus, OM!”

Di situ gue merasa menjadi pemuda lanjut usia.

Gue ngerasa kita sebagai pemuda bangsa harus berbuat sesuatu untuk negeri ini. Terutama di Hari Sumpah Pemuda ini, renungkan lah kita sebagai pemuda. Karna menurut gue negeri ini udah nyaris bobrok. Korupsi dimana-mana. Dari tingkat tinggi mentri, sampai tingkat cetek, kepala desa. Seolah korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia. Instansi antar pemerintah saling melemahkan. Saling serang. Mobil dinas kesenggol dikit aja langsung angkat senjata. Gue sedih melihat ini.

Enggak lama lagi, kita generasi pemuda penerus bangsa akan mengambil alih negara ini. Bapak-bapak kita akan segera lengser. Pensiun dari jabatannya dalam negeri ini. Gue berharap, kita akan menjadi penerus generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Terutama kita para generasi 90-an.

Continue Reading...

Tuesday, 19 September 2017

Home Sweet Home




Setelah satu tahun terdampar di negeri antah berantah, akhirnya gue kembali pulang ke rumah. Gue kembali menghirup udara pekarangan kota. Kembali bobo di atas kasur kesayangan. Kembali pup di jamban rumah yang paling nyaman. Rasanya bahagiaa banget.

Jadi gini, gue baru saja melakasanakn tugas sebagai guru yang diutus mengajar di tempat terpencil di Indonesia. Gue bertguas di pedalaman Pulau Nias, Provinsi Sumatra Utara. Di sana keadaannya sangat terpencil. Akses susah, jalan hancur, listrik belum ada, Indomaret hanya mitos.

Gue cukup syok harus tinggal di tempat itu selama setahun. Bayangin aja gue terbiasa tinggal di tempat yang cukup maju. Fasilitas lengkap. Jalanan mulus kayak pipi Isyana. Listrik selalu ada, Indomaret bertebaran di mana-mana, bahkan banyaknya ngelebihin banyak warung tradisional di tempat gue. Gegara Indomaret dimana-mana, sampe beli masako doang gue pergi ke Indomaret. Namun gue harus meninggalkan fasilitas serba lengkap itu dan tinggal di tempat yang terpencil.

Continue Reading...

Thursday, 3 August 2017

Keluar dari Zona Nyaman is Bullshit





Sering banget gue denger dan baca motivasi yang mengatakan bahwa kita harus keluar dari zona nyaman. Kalo kita terus-terusan berada di zona nyaman, kita enggak akan ada kemajuan. Hidup kita stuck, gitu-gitu ajah. Enggak lulus-lulus kuliah, nganggur terus, jomblo teruss. #eh

Awalnya gue berfikir ini betul banget. Orang yang hidup gitu-gitu aja dan taraf penghasilannya gitu-gitu aja harus disugesti untuk berani keluar dari zona nyaman agar mencapai taraf hidup yang lebih tinggi. Namun belakangan gue mikir, pepatah itu enggak sepenuhnya benar. Justru yang membuat seseorang mau keluar dari zonanya bukan karna mau keluar dari zona nyamannya. Tapi zona nyamannya itu berubah menjadi enggak nyaman, dan membuat dia ingin keluar mencari zona yang lebih nyaman.

Soalnya ngapain gitu orang mau pindah kalau dia udah nyaman di situ. Gue ajah udah nyaman sama dia enggak pernah mau ke yang lain. Eh tapi malah dianya yang balikan sama mantannya. Dan ngilang entah kemana. Tuh malah gue curhat begini. Maaf terbawa suasana.

Supaya lebih jelas apa yang gue maksud, gini deh.

Contohnya ada cowok bernama Jun. Nama panjangnya Junaedi. Jun punya bisnis cilok terbesar di daerah Cirebon. Omzetnya sampai sepuluh juta perhari. Dengan omzetnya yang besar, dia bisa beli Samsung S4 tiap hari. Bisa umroh sebulan dua kali. Bisa jadi sponsor acara Inbox. Jun sangat menikmati kejayaan ini. Jun berada dalam zona nyamannya sekarang. Tanpa orang-orang tahu Jun memulai bisnisnya dengan susah payah.

Jun memulai bisnisnya dengan gerobak cilok bekas yang dipinjamkan mantan pacarnya. Nama panggilannya Pupu. Nama panjangnnya Maspuah. Si Pupu tukang jualan rongsok. Kebetulan ada gerobak bekas, terus Jun menyewanya dengan jaminan kalau sebulan Jun belum mampu membayar sewanya, Pupu mengancam akan menyebarkan foto mesum mereka berdua saat pacaran sehingga Jun malu.

Namun Jun enggak patah semangat. Dengan semangat sukses dan semangat agar foto mesumnya enggak disebar, Jun bersungguh-sungguh jualan cilok. Jun terus berinovasi dengan ciloknnya. Dimulai dengan melabeli ciloknya dengan nama fenomenal, yakni Cilok Drible (dibaca: cilok dribel). Kemudian Jun melanjutkan dengan berinovasi membuat cilok rasa kaldu ayam, kemudian berkembang menjadi rasa rendang, dan terakhir menjadi rasa sayang sama mantan tapi gengsi mengakuinya.

Akhirnya Jun sukses menjadi pebisnis cilok. Tiap hari uang mengalir ke sakunya. Namun, perlahan Jun merasa jenuh. Rutinitas sehari-harinya cuma nerima duit sepuluh juta, enggak ada yang dipikirin. Padahal dia pengen gitu pusing mikirin bisnis ciloknya.

Lama-kelamaan Jun merasa enggak nyaman dengan hidup yang flat aja. Akhirnya, zona nyaman yang selama ia tinggali berubah jadi zona yang enggak nyaman. Jun mulai mencari-cari tantangan baru.

Jun memberanikan diri keluar dari zona enggak nyamannya. Dia mencari zona nyaman yang dia inginkan, yakni tantangan baru membuka gerai Cilok Drible di luar kota. Bermula dari satu gerai cilok di Bandung. Di bandung Jun punya banyak saingan. Jun terus memikirkan cara agar Cilok Drible-nya diterima masyarakaat luas. Seharian Jun ngelamun di jamban nyari inspirasi. Kepala Jun sampai pusing dan harus dikompres foto Pupus. Kenapa dikompres pake foto Pupu bukan pakai es batu? Karna sikap Pupus lebih dingin dari es batu.

Walaupun menderita, tapi inilah yang Jun inginkan. Hidupnya kini enggak flat. Dia disibukkan dengan gerai baru Cilok Drible di Bandung. Jun kini berada di zona nyamannya. Dia senang dengan tantangan.

Setelah bersusah payah, Cilok Drible akhirnya terkenal seantero Bandung. Omzet Jun naik tiga kali liat. Kini Jun bisa beli Honda CBR 250 setiap hari. Jun bisa minta beking supaya kalau ada pedagang cilok lain mengancam usaha Jun, mereka bisa diciduk dengan tuduhan mengoplos cilok atau menjual cilok murah dengan harga premium.

Contoh lainnya si Udin. Sehari-hari Udin kerja sebagai guru honorer di daerahnya. Pendapatannya ala kadarnya. Dia merasa nyaman karna kerjanya santai. Enggak ada tekanan. Dia nyaman dengan zonanya. Namun suatu saat orangtuanya membandingkan dia dengan anak tetangga.

Nyokapnya bilang, “Tuh lihat si Jun. Sukses jualan Cilok Drible padahal awalnya cuma punya gerobak rongsok. Kamu kapan bisa merantau sukses kayak dia?”

Lama kelamaan Udin merasa enggak nyaman diomongin gitu terus. Akhirnya udin memutuskan untuk pindah merantau ke luar negeri. Udin memilih pergi dari zona yang udah enggak lagi nyaman. Kini Udin ada di zona baru. Di kehidupan baru. Dia merantau ke Somalia, bergabung dengan Klub Perompak Kapal Internasional (International Pirates Club). Untuk bergabung dengan tim mereka, sangat enggak gampang. Udin diospek sampe hampir mati. Walau di kehidupannya yang baru ini Udin mendapat tekanan, setidaknya zona ini terasa lebih nyaman daripada di zonanya yang dulu harus diomongin orang tua untuk pergi merantau.

Contohnya lagi gue.

Gue dulu merasa nyaman di kehidupan lulus kuliah, pikiran bebas, enggak mikirin tugas lagi. Bisa santai-santai di rumah nonton FTV, dan kartun di Global TV sepuasnya. Bisa tidur seharian sepuasnya tanpa mikirin jadwal kuliah kayak sebelumnya. Wah, gue lega banget semenjak lulus kuliah. Gue juga dapet kerja yang jadwalnya nyantai. Enggak harus masuk setiap hari. Gajih lumayan dapet buat beli kuota.

Namun gue merasa bosan. Zona ini enggak lagi nyaman. Rutinitas gue gitu-gitu terus. Sampai suatu saat gue memutuskan utnuk mencari zona yang lebih nyaman. Gue ikutan SM-3T. Yaitu program guru yang mengajar di tempat pelosok dan terpencil Indonesia selama satu tahun. Gue nekad ikut program ini. Padahal gue belum pernah yang namanya jauh dari rumah. Tapi gue nekad. Alhamdulillah gue akhirnya berhasil lolos dan ditempatkan di Nias. Gue emang enggak pernah main jauh dari rumah, eh sekalinya main malah kejauhan sampe ke Nias.

Hidup di pedalaman Nias enggak pernah gampang. Banyak rintangan di dalamnya. Dari mulai suku dan agama penduduk yang sangat jauh beda dari yang gue punya sehingga menuntut adaptasi tinggi, sampai kondisi daerah yang tanpa listrik, jalan hancur, sinyal jelek, air susah. Namun, dibalik kesulitan ini, gue merasa nyaman. Ini lebih baik daripada tiap hari tidur di rumah, nonton FTV enggak mutu. Dibalik kesulitan ini, gue merasa inilah zona nyaman gue. Terlebih gue di sini enggak sendirian. Banyak teman-teman sesama guru SM-3T yang sama-sama tugas di sini. Gue merasa ada yang menemani. Terutama teman-teman sekamar gue ini yang sudah tidur bareng bertiga hampir lebih dari sebulan lamanya menanti penjemputan di kota, membuat gue merasa lebih nyaman.



So, sudah cukup jelas di sini, bahwa kata, “Keluarlah dari zona nyaman,” harus diganti. Justru harusnya begini, “Carilah zona ternyaman kamu!”

Mari kita tinggalkan zona enggak nyaman kita. Mari berjuang mengapai zona paling nyaman dalam hidup kita. Walaupun zona itu sulit, keras, menyakitkan, tapi harus kita ingat. Inilah zona nyaman kita. Zona yang kita harus perjuangkan. Nikmatilah sesulit dan sesakit apapun yang kita rasakan. Jangan gentar!

Oke, sekian tulisan gue kali ini. Tetap semangat, tetap ceria, tetap percaya jodoh itu pasti ada. #eh


Love you...
Continue Reading...

Friday, 21 July 2017

Alasan Mahasiswa Memilih Gondrong




Kuliah adalah waktu yang dinanti-nanti oleh anak SMA. Salah satu alasannya karena kuliah lebih terasa bebas daripada SMA. Selama di SMA, enggak masuk tanpa keterangan tiga hari beruntun aja orang tua dipanggil ke sekolah. Ketika menjadi mahasiswa, mau masuk cuma satu kali satu semester juga bebas. Palingan menjelang masa ujian semester nama lo enggak ada di daftar peserta ujian. Bukan cuma itu kebebasan yang dirasakan mahasiswa. Kebebasan yang paling penting dan hakiki tuh bebas dalam penampilan.

Continue Reading...

Friday, 7 July 2017

Tips Jitu Memilih Pasangan Hidup




Manusia adalah makhluk sosial. Karna itu mereka butuh manusia lain dalam menunjang kehidupannya. Contohnya dari hal kecil seperti upload foto di instagram. Manusia butuh orang lain untuk fotoin dia lagi berpose. Temen gue si Cucu, minta gue fotoin dia lagi bergaya di pinggir pantai. Sampe tangan gue keram karna dia minta foto puluhan kali. Dia enggak pernah merasa puas dengan hasil jepretan gue dan selalu ngerasa pipinya terlalu gendut. Gue harus nyari angle yang sempurna demi menyembunyikan buntelan lemak di pipi Cucu.

Begitu juga dengan hal lain. Manusia butuh keluarga sebagai tempat berinteraksi pertama kali, butuh teman untuk berbagi, dan juga butuh pasangan hidup untuk berkembang biak. Poin terakhir adalah yang paling penting.

Continue Reading...

Monday, 20 June 2016

Orang-orang Kampungan


Menurut gue di Indonesia masih banyak orang kampungan. Mereka ini yang bikin Indonesia enggak enak dipandang. Mereka pengacau kestabilan negara ini. Gue risih sama mereka. Bahkan kalo bisa pengen banget rasanya gue nitipin mereka untuk diangkut ke luar angkasa bareng satelit BRI tempo hari.

Orang kampungan yang gue maksud ini berbeda dengan yang digambarkan di FTV. Kalo di FTV orang kampungan digambarkan memiliki gaya bicara yang medhok, kalo diajak ke Jakarta bakal celingukan kayak orang kesasar melihat gedung-gedung tinggi, atau suka menggunakan daster gembel sambil netek-in anaknya. Bagi gue bukan seperti itu orang kampungan. Di mata gue orang kampungan justru orang kota, berpendidikan, tapi otaknya enggak dipake.

Orang yang suka buang sampah sembarangan. Sumpah, ini kampungan banget. Di eropa, orang buang sampah sembarangan bisa kena denda jutaan rupiah. Minimal mereka kena hukuman sosial dengan dicibir dan dilihatin orang sekitar dengan ekspresi tatapan ngelihat orang boker sembarangan.

Sadar enggak sih sewaktu SD kita dididik untuk tidak membuang sampah smebarangan. Jelas sekali bahkan sampai disebutkan oleh guru dampaknya menyebabkan banjir dan penyakit. Tapi justru pendidikan yang dasar banget itu enggak mereka pake saat sudah dewasa. Dasar kampungan! Kayak orang enggak sekolah! Jauh tertinggal pemikirannya dari orang eropa yang maju.

Gue sempat ketemu seorang pemuda gagah dan ganteng. Ia mengenakan almamater kampus terkenal di Indonesia sambil menenteng keresek Indomaret. Keringat menetes perlahan di dahinya karna udara panas yang menyengat kala itu. Kemudian ia mengeluarkan isian dari kresek Indomaret yang ia bawa. Itu eskrim. Dia ngupas eskrim itu, kemudian dengan enaknya ngemut-ngemut eskrim. Lidahnya bermain lihai menjilati ujung eskrim atas sampai kebawah, menyentuh tangkainya. Gue ngiler dibuatnya. Beberapa kali gue menelan ludah. Sumpah, udara panas bikin gue pengen makan eskrim juga, tapi apa daya, uang gue cuma cukup untuk naik angkot pulang.

Pemuda gagah dan ganteng itu membuang sembarangan bungkus eskrimnya. Pengen banget gue pungut tuh bungkus eskrim, lalu gue buang ke tempat sampah. Namun gue membatalkan niat baik itu. Gue khawatir ketika memungutnya, gue tergoda untuk menjilati lelehan eskrim yang tertempel di bungkusnya.

Continue Reading...

Friday, 10 June 2016

Pacaran yang Islami



Orang bilang, “Enggak ada yang namanya pacaran Islami. Karna pacaran dalam Islam itu enggak boleh.”

Menurut gue itu salah. Dalam Islam juga boleh kok pacaran, asalkan sebelumnya menikah dulu. Ehehe.

Yup, jadi maksud gue, pacaran yang Islami itu ya yang pacarannya sesudah menikah. Sebagai pasangan pengantin muda, pasti asyik ngejalanin kegiatan seperti orang pacaran. Misalnya nge-date tiap malam minggu. Tujuan ngedate bisa bervariasi. Bisa terkadang nonton, makan di cafe yang mengadakan stand up comedy, seperti Komunitas Stand Up Comedy Cirebon yang sealu rutin mengadakan open mic tiap malem minggu, atau pilihan terakhir gelap-gelapan berdua di kuburan.

Loh, enggak ada salahnya dong mojok gelap-gelapan di kuburan. Kalo digerebek polisi kayak di acara 86, tunjukin surat nikah. Yang penting kan udah nikah. Asal jangan gelap-gelapan di kuburan sambil pesugihan. Itu termasuk musyrik. Kalo udah musrik, rontok dah semua amalan dari awal banget hidup sampe sekarang. Pahala waktu dulu rela beli pecin di warung karna disuruh nyokap padahal lagi asik nonton drama korea, hangus sudah. Gile, rugi benerrr!

Well, menikahlah di usia muda. Biar masih bisa pacaran. Lagi pula pasangan pengantin muda tuh enak dipandang. Apalagi pas di pelaminan. Kayaknya enak gitu melihat sepasang muda mudi yang di atas pelaminan pernikahan. Pengantin ceweknya cantik enak dilhat. Lengannya masih kencang dan kecil, tubuhnya ideal. Sementara pengantin cowok nampak ganteng dan enak dipandang. Rambutnya masih tebal. Perutnya masih rata. Kumis dan jenggotnya masih tipis sehingga wajahnya cute abis. Rasanya kayak nonton pernikahan di FTV.

Jangan sampe kayak pengalaman gue. Waktu itu gue nganterin nyokap menghadiri hajatan pernikahan. Pasangannya tua banget. Yang cowok rambut depannya sudah rontok. Perutnya segede tabung gas elpiji 12 kilo karna kebanyakan lemak. Kumisnya baplang. Yang cewek juga enggak kalah tuanya. Lengannya bengkak segede tiang telepon. Mata gue sepet ngeliat yang beginian. Bawaannya pengen cepet pulang, enggak makan di tempat hajatan. Kalo bisa hidangan dibekel aja pake rantang.

So, nikah aja dulu, pacaran kemudian. Biar bisa menikmati pacaran yang Islami di usia muda gitu.

By the way, ini cuma opini pribadi aja. Kalo belum ada modal untuk nikah dan belum sanggup mental, ya tahan dulu sih. Soalnya gue juga masih jomblo. Hiks!

Sedih kalo diceritain mah.

Demikian postingan gue kali ini. Jadi kesimpulannya pacaran yang Islami itu ada kok. Iyah, ada.

Continue Reading...

Wednesday, 6 April 2016

Tiga Orang Paling Sensitif di Dunia



Menurut gue, ada tiga orang yang paling sensitif di muka bumi ini. Setelah gue melakukan pengamatan mendalam terhadap perilaku orang-orang sekitar gue, gue mendapatkan fakta bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk sensitif. Emosi mereka bisa terpancing begitu saja. Misal, nonton sonetron marah-marah sendiri.

Namun, dibalik itu semua, berikut adalah tiga dari sekian banyak jenis orang sensitif gampang marah yang hidup di muka bumi.

Di urutan pertama orang paling sensitif adalah cewek PMS. Mereka gampang banget marah karna disebabkan suasana biologis jiwanya yang terganggu. Mangkanya, cewek PMS gampang banget tersulut emosinya.

Kalo cewek PMS naek angkot, begitu turun dari angkot, mamang angkotnya yang ngasih duit, “Neng, ini uang buat beli kuota.”

Kalo cewek PMS lagi sidang skripsi, dosen pengujinya yang minta direvisi, “Mbak, tolong koreksi sifat buruk saya, biar saya revisi dan menjadi pribadi lebih baik.”

Kalo cewek PMS selingkuh, pacarnya yang minta maaf, “Sayang, maafin aku udah enggak pernah bikin kamu bahagia jadi kamu selingkuh.”
Continue Reading...

Friday, 1 April 2016

Tips Jitu Menjawap Pertanyaan “Kapan Nyusul?”



Gue sudah sering dibombardir dengan pertanyaan enggak berperasaan, “Kapan nyusul?”

Ketika gue menghadiri undangan kawinan perdana di semester enam, gue sudah mendapatkan pertanyaan tersebut. Iyah, “kapan nikah” maksudnya.

Gue santai aja nanggepin pertanyaan tersebut. Enggak ada ekspresi lain selain cengar-cengir-menjijikan yang terpancar dari wajah gue. Gue masih selow.

Suatu waktu, gue kembali datang ke undangan kawinan. Lagi-lagi gue ditanya “Kapan nyusul?” bahkan bukan cuma itu, kali ini gue juga ditanya, “Kok enggak diajak istrinya?”

Gila! Ini sih ngeledek namanya. Setua itu kah wajah gue!

Seiring bertambahnya usia dan kini gue sudah lulus kuliah dan resmi bergelar S.Pd, gue sudah kenyang makan asam garam seputar pertanyaan “Kapan nyusul?” Selama ini gue cuma nanggepin dengan cengar-cengir, namun cukup sudah! Gue enggak bisa diginiin terus. Emosi gue membuncah ketika gue menghadiri acara lamaran sepupu gue, Ghina, pada tanggal 25 Maret kemarin.

Moment itu adalah titik balik kebangkitan gue. Gue sadar, sesaat lagi Ghina menikah. Di moment nikahan Ghina kelak gue pasti akan dihabisi dengan pertanyaan “Kapan nyusul?” Itu pasti! Gue enggak akan tinggal diam. Seluruh kekuatan akan gue kerahkan untuk memproteksi diri dari pertanyaan super mengerikan itu.

Sejak tanggal 25 Maret itu, gue berpikir keras jawaban apa yang paling tepat yang harus gue berikan saat dicerca dengan pertanyaan jahat demikian.

Berikut ini, pilihan cara menjawab yang gue pertimbangkan untuk dilontarkan saat kita dibombardir dengan pertanyaan”KAPAN NYUSUL?”

Pertama-tama, jawablah dengan tertawa santai seperti berikut:

Continue Reading...

Barangkali Luka di Hati sama seperti Luka di Jari



“A..., tolong kupasin kelapa!” teriak nyokap dari dapur. Gue adalah anak pertama dan gue adalah Orang Sunda. Itulah mengapa nyokap memanggil gue, ‘A,’ yang berarti ‘kakak.’

Gue lagi asik gogoleran nonton FTV di ruang tengah. Maklum, gue masih pengangguran, jadi kerjaan gue nonton FTV untuk nyari inspirasi.  Gue baru kerja part-time ngajar di bimbel. Full-time-nya gue nganggur di rumah, nonton FTV.

“Iya, Mah. Sebentar, A’a lagi nonton FTV dulu,” jawab gue kala itu.

“Cepetan! Mamah mau masak sayur lodeh nih pake santen!” teriak nyokap gue lagi.

Ini yang ngeselin. Nyokap tuh enggak toleransi banget sih. Gue lagi asik nonton FTV, eh malah disuruh ngupas kelapa. Mana adegannya lagi seru lagi. Di TV nampak pemeran cowok lagi nembak pemeran cewek, terus mereka pelukan. Adegan tersebut sungguh indah, beda banget dengan realita yang mana kalo cowok nembak cewek bukannya pelukan, malah digantung berminggu-minggu.

“I-iyah, sebentar, Mah. Nuggu iklan, nih!” teriak gue ke nyokap.

Enggak ada teriak balasan dari nyokap. Hening.

Asik, gue terusin nonton FTV. Setelah cewek dan cowok itu pelukan, mereka tatap-tatapan. Wajah mereka makin mendekat satu sama lain. Si cowok memiringkan kepala 20° ke kiri. Mata si cewek terpejam. Bibir mereka berdekatan. Lalu mereka... gelap. Tiba-tiba TV gue menjadi gelap.

“KUPAS KELAPA SEKARANG!” teriak nyokap yang tiba-tiba ada di sebelah TV sambil memegang kabel TV yang sudah copot dari saklarnya. “CEPET!” kata nyokap sambil memutar kabel TV  seperti cowboy.

Continue Reading...

Friday, 4 March 2016

Rio, F1, dan Kearifan Lokal Indonesia di Mata Dunia





Melihat berita di atas, gue merasa bangga sekaligus salut dengan Rio Haryanto. Awal mula perjuangannya di dunia balap mobil bener-bener enggak gampang. Bayangin aja, ia dipandang sebelah mata awalnya. Ketika juara di GP Turky, lagu Indonesia Raya aja enggak ada di playlist panitia sampe akhirnya Rio nyanyi lagu itu sendiri pake mulut.

Namun siapa sangka, bocah ingusan yang dipandang sebelah mata itu, kini bisa mengendarai mobil F1, mobil balap paling mahal di dunia. Berkat kerja kerasnya dan doa ibu, Rio bisa menembus F1 dan menjadi satu-satunya orang Asia yang berlaga di F1 2016 ini.

Di umurnya yang 23 tahun ini, Rio sudah bisa balap F1, sedangkan gue di umur 23 tahun nyalip emak-emak naek matic aja enggak mampu. Lemah!

Continue Reading...

Sunday, 28 February 2016

Ketika Gue Ada di Black In News


Gue suka berhayal dari apa yang gue lihat di televisi. Waktu gue nonton berita seorang remaja kelas dua belas SMA yang mendapatkan nilai UN tertinggi di Indonesia sedang diwawancarai di studio TVOne, gue pun menghayal. Gue membayangkan jika gue adalah remaja cewek itu. Banyak hal yang terlintas di fikiran gue. Di antaranya apa yang mesti gue jawab ketika diberi pertanyaan-pertanyaan dari host televisi itu, mimik wajah seperti apa yang harus gue tunjukan di televisi, serta kerudung motif apa yang harus gue kenakan.

Tiap melihat berita kriminal, gue pun merasakan hal yang sama. Suka terlintas di fikiran gimana seandainya gue terjerat kasus korupsi. Duh serem abis. Jangan sampai seperti itu.

Suatu saat gue nonton acara Black in News di ANTV. Black In News ini acara anak-anak gaul. Karna gue juga pengen jadi anak gaul tanpa digauli, maka gue sempatkan nonton Black In News tiap minggu malem. Salah satu segmen di dalamnya ada yang membahas gaya berpakaian anak muda yang lagi trend saat ini. Di layar kaca, ada seorang mas ganteng sedang diwawancarai mengenai gaya berpakaiannya yang saat itu sedang ia kenakan.
Continue Reading...

Friday, 26 February 2016

Orang-orang Norak di BBM





Sudah satu tahun lebih gue menggunakan aplikasi social media BBM. Ketika awal-awal menggunakan BBM, gue happy banget. Gue berhasil jadi anak gaul yang kafah. Gue berpikiran demikian karna saat itu gue cupu banget. Di saat temen-temen kuliah gue sudah pada punya akun BBM, gue masih aja minta di-SMS.

“Eh, udah ngumpulin tugas Pak Endang belum?” Tanya Juminten, temen kuliah gue kala itu.

“Tugas apaan?!” Gue balik nanya sambil terheran-heran.

“Lah, emangnya elo blum tahu?”

Gue menggeleng unyu.

“Kan di group udah gue share, Pak Endang nyuruh bikin essay pengaruh cabe-cabean terhadap pendidikan moral anak,” jelas Juminten.

“GROUP APAAN SIH?”

“BBM…”

“HA? KAN GUE UDAH BILANG, KALO ADA INFO, SMS GUEEE!! GUE ENGGAK PUNYA BBM!!!!” gue murka.

“MANGKANYA, ELO INSTAL BBM DONG!!!” Juminten noyor gue.

Detik  itu juga mental gue hancur. Gue down. Gue merasa banhwa gue hanyalah segumpal lelaki cupu. Gue mahasiswa gagal!

Continue Reading...

Thursday, 25 February 2016

Kriteria Rumah Tinggal Ketika Tua Kelak

Tiap gue main ke rumah almarhum kakek dan nenek dulu sewaktu beliau berdua masih ada, gue suka membayangkan diri gue di posisinya.

Ketika gue tua kelak, apakah gue akan seperti dia yah? Kata gue dalem hati.

Kakek dan nenek tinggal cuma berdua. Anak-anaknya sudah hidup dengan keluarganya masing-masing. Rumah kakek dan nenek menjadi saksi dari hidup keduanya.

Di kala senggang, kakek memberi makan ayam-ayam peliharaannya di halaman. Ini menjadi sarana hiburan tersendiri bagi kakek. Setelah memberi pakan ayam, kakek beralih ke kolam ikan besar yang ada di halaman belakang rumah. Bukan, kakek bukan mau nyemplung ke kolam, atau latihan Sasuke Ninja Warior, tapi kakek hendak memberi makan ikan gurame peliharaannya. Melihat kakek memberi makan ikan, gue juga jadi pengen ikutan makan. Iya, kebetulan saat itu perut gue  belum diisi makan dari pagi.

Nenek senang memasak. Walaupun usianya sudah tua, ia masih bisa bedain mana pecin, mana sabun cuci bubuk, sehingga makan buatannya sedep bener. Bahan-bahan masakan pun banyak nenek peroleh dari halaman rumah.  Kalo mau ngambil salam, sereh, dan jahe buat pewangi masakan yang berbau anyir, nenek tinggal ngambil di halaman belakang. Iyah, selain ada kandang ayam dan kolam ikan luas, di halaman belakang rumah juga terdapat tanaman-tanaman bumbu masakan. Selain sereh, salam, dan jahe, juga ada tomat, melinjo, dan daun pisang.

Awalnya gue curiga di halaman belakang rumah nenek dan kakek ada pedagang sayur keliling, eh setelah gue periksa ternyata gue salah. Ternyata nenek menanam sendiri tanaman bumbu masakan tersebut. Duh senangnya. Ini baru namanya tradisional. Tiap cucu-cucunya main ke sini, pasti mereka bakal senang karna mendapatkan hal yang enggak mereka dapatkan di kota.

Gue jadi kepikiran, ketika gue tua kelak, gue pengen tinggal di rumah seperti yang mereka tempati.

Continue Reading...

Monday, 8 February 2016

Hal-hal yang Bikin Orang Takut Nyatain Rasa


“Gue sayang sama lo. Gue mau nikah sama lo! GUE PENGEN BOBO BARENG SAMA LO!”

Pengen rasanya gue mengucapkan kalimat di atas lantang di wajahnya. Namun sayang, gue enggak punya cukup keberanian. Lidah gue terlalu kelu. Mendadak gue seperti orang kena struk yang bibir dan pantatnya enggak bisa gerak. Dan akhirnya gue melewati kesempatan jadian. Dia pun pindah ke luar kota, sementara gue hanya bisa merana.

Sampai sekarang gue masih komunikasi baik dengan dia. Seenggaknya gue bersyukur masih bisa keep in touch dengan dia. Gue beruntung enggak sampai kehilangan sosoknya, meskipun di permukaan bumi ini gue dan dia berjarak ratusan kilometer. Mungkin seandainya jika saat itu gue nyatakan rasa, gue akan kehilangan dia. Iyah, karna sudah bisa diprediksi kemungkinannya 99,9% gue akan ditolak. Dan moment ditolak adalah pintu gerbang dari putusnya hubungan. Kebayang kami akan saling diam. Saling canggung. Gue akan menyimpan dendam membara. Kirim santet kawat dan power bank ke dalem usus dua belas jarinya.

Kesimpulannya... saat itu gue takut nyatain rasa.

Mungkin bukan cuma gue aja yang pernah ngalamin takut nyatain rasa. Gue yakin, jomblo-jomblo nista yang merana di luar sana juga pasti pernah ngalamin yang namanya takut nyatain perasaan.
Continue Reading...

Wednesday, 27 January 2016

Nasib Generasi 90-an


Waktu nyokap gue ke rumah sakit nemenin bibi check up, ada pasien remaja perempuan yang menderita penyakit kronis. Di umurnya yang baru lulus SMA, 18 tahun, ia sudah menderita diabetes.

“Itu beneran, Mah?” tanya gue ke nyokap, kurang yakin.

“Mamah juga kaget,” ternyata nyokap juga tercengang.

Gue sempet mikir, mungkin penyebab remaja cewek itu kena diabetes karna keseringan dikasih janji manis sama cowoknya. Namun, gue enggak mau salah perkiraan. Gue tanya langsung ke nyokap, “Emang awal mulanya kenapa, Mah, kok bisa sampai kena diabetes?”

“Dokter bilang kemungkinan karna keseringan minum minuman botol,” nyokap menjelaskan sambil ngulek terasi. Iya, latar tempat kejadian obrolan gue dan nyokap di dapur. Ketika gue melewati dapur sesudah dari kamer mandi untuk mandi pagi, nyokap menghadang sambil bilang, “Yoga, sini mamah mau cerita.” Padahal waktu itu gue masih pake handuk doang.

“Minuman botol? Aqua?” lanjut gue bertanya.

“Ih! Bukan. Minuman botol berasa,” nyokap menjelaskan sambil meninju terasi dengan ulekannya agak kencang.

“Ohh, kayak Fresti, Gud dey, Panta?”

“Nah, iya apalah itu namanya.”

Heran juga gue. Apa masalahnya dengan minuman berasa kayak gitu sampe bisa bikin diabetes?!

“Makanya Yoga, kamu jangan suka minum-minuman itu!”

“Gapapa kali, Mah. Aer putih mah tawar. Enggak enak,” jawab gue sambil hendak berlalu, menuju kamar untuk mengenakan pakaian.

“HEH!!” nyokap menghantamkan ulekan ke terasi dengan kencang, sampai mereka lompat berceceran ke lantai.

Gue kaget dan langsung menghentikan langkah. “I-iya, Mah.”

“SINI DULU!!” perintah nyokap sambil menggerakan dagu, pertanda gue harus menghampirinya.

“A-aku mau ke kamer, Mah. Ini dingin cuma pake handuk doang.” Berdiri hanya mengenakan handuk ternyata bikin gemetaran. Angin sepoy-sepoy masuk lewat bawah handuk, menjalar ke atas melewati benda pusaka yang menggantung bebas tanpa handle, endingnya masuk ke perut.

“Pokoknya... kamu... jangan... MINUM MINUMAN BOTOL!!!” tegas nyokap sambil membanting ulekan ke lantai. Sekarang nyokap ngulek di lantai.
Continue Reading...

Profil Penulis

My photo
Penulis blog ini adalah seorang lelaki jantan bernama Nurul Prayoga Abdillah, S.Pd. Ia baru saja menyelesaikan studinya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Ia berniat meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk memperdalam ilmu Pendidikan Bahasa Tumbuhan, namun sayang belum ada universitas yang membuka jurusan tersebut. Panggil saja ia “Yoga.” Ia adalah lelaki perkasa yang sangat sayang sekali sama Raisa. Di kamarnya banyak sekali terpajang foto Raisa. Sesekali di waktu senggangnya, ia mengedit foto Raisa seolah-olah sedang dirangkul oleh dirinya, atau sedang bersandar di bahunya, atau sedang menampar jidatnya yang lebar. Perlu anda tahu, Yoga memiliki jidat yang lebar. Karna itu ia sering masuk angin jika terlalu lama terpapar angin di area wajah. Jika anda ingin berkonsultasi seputar mata pelajaran Bahasa Inggris, atau bertanya-tanya tentang dunia kuliah, atau ingin mengirim penipuan “Mamah Minta Pulsa” silahkan anda kirim pesan anda ke nurulprayoga93@gmail.com. Atau mention ke twitternya di @nurulprayoga.

Find My Moments

Twitter